Sejarah dan Silsilah Sunan Cendana Kwanyar dan Turunan nya

Sejarah dan Silsilah Sunan Cendana banyak simpang siur yang beredar di google, oleh karena itu lewat tulisan ini kami tim Gerbang.or.id akan sedikit meluruskan berdasarkan catatan manuskrip kuno yang kami ketahui.

Makam Sunan Cendana sendiri berada di desa Kwanyar kabupaten Bangkalan, Tepatnya dibelakang masjid Kwanyar didepan Pasar.

Makamnya menjadi salahsatu obyek wisata religi di Bangkalan yang banyak di ziarahi masyarakat lokal madura maupun di luar pulau madura.

Adapun Sejarah Sunan Cendana yang banyak bertebaran di internet ada yang benar dan ada juga yang perlu diluruskan. Kami akan mengutip dari manuskrip kuno yang pernah dibacakan oleh salah satu turunan sunan cendana.

Biografi dan Sejarah Sunan Cendana Kwanyar

Sejarah Sunan Cendana
Sejarah Sunan Cendana

Nama asli sunan cendana adalah Syaikh Zainal Abidin Bin Kiai Khotib, Beliau lahir di kota Mataram pada sekitar tahun 970 Hijriyah, atau tahun 1560 dalam hitungan Masehi.

Beliau dibesarkan di kota mataram dan sudah banyak mengenyam pendidikan agama dari ayah nya Kiai Khotib.

Kemudian Beliau menuntut ilmu di Ampel surabaya tepatnya di Pondok Sunan Ampel. Disana beliau belajar ilmu agama hingga tuntas dan alim.

Lalu, setelah dirasa cukup beliau melanjutkan jenjang pendidikan nya di Palembang (belum diketahui tempatnya).

Dari kedua tempat tersebut, Syaikh Zainal Abidin sudah cukup menguasai dalam ilmu agama dan bisa dikatan seorang yang Alim.

Kemudia setelah menyelesaikan semua pendidikan nya, syaikh zainal abidin pulang dan berangkat soan ke paman nya yang merupakan Raja di Kertosono.

Diangkat Menjadi Panglima Kerajaan

Dari hasil pertemuan nya dengan Raja Kertosono, Sunan Cendana mendapatkan tugas penting untuk memimpin peperangan ke Blambangan.

Dengan ta’dzim dan rendah hati, beliau menerima tugas mulia tersebut dan berangkat menuju Kerajaan Blambangan.

Ditengah jalan, Beliau bertemu dengan seorang teman bernama Syaikh Jakfar Shodiq yang berasal dari sampang.

Setelah menceritakan tujuan nya, syaikh jakfar shodiq ingin sekali ikut berperang bersama ke blambangan bersama syaikh zainal abidin.

Singkat cerita, Beliau berhasil memenangkan peperangan tersebut. Sebagian dari rakyat blambangan kabur ke pulau bali dan sebagian lagi bersedia memeluk agama Islam.

Sepulangnya dari Blambangan, Kiai Zainal Abidin mampir disebuah desa di Pandaan, Pasuruan dan membangun sebuah masjid.

Beliau juga meninggalkan semua peralatan perang nya di desa tersebut, Sampai sekarang peralatan perang nya masih ada dan di musiumkan disana.

Diajak Berdakwak ke Pulau Madura

Sesampainya di daerah ampel, Syaikh zainal abidin bertemu dengan teman lamanya di pondok. Beliau adalah Kiai Kabu-kabuh ada juga yang menyebutnya Kiai Kawakib yang berasal dari sampang Madura.

Beliau diajak serta agar ikut ke Madura menyebarkan agama islam disana. Namun, ajakan tersebut tidak langsung di iya kan oleh kiai zainal abidin.

Beliau ingin pulang dulu ke kerajaan kertosono dan menyampaikan hasil peperangan nya di blambangan kepada raja kertosono.

Beliau juga akan menerima ajakan untuk berdakwah ke Madura tersebut jika di izinkan oleh sang paman (Raja Kertosono).

Sesampainya di kerajaan kertosono, Syaikh zainal abidin menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada sang raja atas kemenangan nya. Raja pun sujud syukur dan berterimakasih kepada kiai zainal abidin.

Berangkat ke Madura Menaiki Ikan Mondung

Kemudian, Syaikh Zainal Abidin mencertikan perihal ajakan seorang teman tadi kepada sang raja. Raja kertosono pun menjawab bahwa dia sangat ingin Kiai Zainal Abidin agar menetap di kerajaan kertosono.

Namun, dengan hati lapangnya sang raja mengizinkan karena menyangkut pemerataan penyebaran agama islam di pulau jawa.

Singkat cerita, akhirnya Syaikh zainal abidin berangkat ke pulau madura. Namun, di pinggir pantai sisi surabaya beliau bingung karena tidak ada perahu untuk digunakan menyebrang.

Ahirnya, beliaupun berdoa kepada Allah agar dipermudah segala niat dan tujuan nya untuk pergi ke pulau garam tersebut.

Biidznillah (dengan izin Allah) datanglah sebuah ikan besar yang bisa berbicara dan menawarkan tumpangan kepada syaikh zainal untuk menyebrang ke pulau madura.

Ikan tersebut diyakini adalah ikan mondung atau yang kita kenal sebagai ikan Paus. Beliau berangkat menerima tawaran ikan tersebut dan berlabuh di desa Labuhan Sampang.

Asal Usul Julukan Sunan Cendana

Setelah perjalanan dakwah nya yang panjang di pulau madura, ahirnya beliau menetap di Kwanyar, Sebuah daerah yang merupakan bagian dari kabupaten Bangkalan.

Disana beliau berkholwat (Bertapa) di bawah pohon yang besar nan rindang, Kemudian dengan izin Allah pohon besar tadi membelah diri dan menawarkan tempat kepada Syaikh Zainal Abidin.

Ahirnya beliau bertapa didalam pohon tersebut yang diyakini hingga saat ini adalah Pohon Cendana.

Singkat cerita, Nama Beliau semakin tersebar dan didengar oleh kerajaan di kalangan Madura Barat. Sampai raja Bangkalan Cakraningrat 1 (Raden Praseno) saat itu sowan kepada beliau minta didoakan untuk keselamatan Bangkalan.

Silsilah Sunan Cendana Syaikh Zainal Abidin

Silsilah Sunan Cendana kwanyar
Bagan Silsilah Sunan Cendana

Berikut Silsilah Sunan Cendana Kwanyar yang kami kutip dari Susunan Silsilah di Pesarean Beliau:

  1. Syaik Zainal Abidin Sunan Cendana Bin
  2. Raden Muhammad Al Khotib Bandardaya Bin
  3. Raden Qosim Sunan Derajad Bin
  4. Raden Ali Rahmatullah Sunan Ampel Bin
  5. Syaik Ibrohim As Moroqondi Bin
  6. Sayyid Jamaluddin Al Huseini/ Jumadil Qubro Bin
  7. Al-amir Al-Muadzom Syah Maulana Ahmad Jalaluddin Bin
  8. Sayyid Abdul Malik Azmat Khan Bin
  9. Sayyid Alwi Ammil Faqih Bin
  10. Syaikh Muhammad Shohib Marbath Bin
  11. Sayyid Ali Kholi’ Qosam Bin
  12. Sayyid Alwi As-Tsani Bin
  13. Syaikh Muhammad Sohibusshoumiah Bin
  14. Sayyid Alwi Bin
  15. Sayyid Ubaidillah/ Abdullah Bin
  16. Sayyid Ahmad Al-Muhajir Bin
  17. Syaik Isa Ar-Rumi Bin
  18. Syaikh Muhammad An-Naqib Bin
  19. Sayyid Ali Al Uraidhi Bin
  20. Sayyid Ja’far As-Shodiq Bin
  21. Sayyid Muhammad Al-Baqir Bin
  22. Sayyid Ali Zainal Abidin As Sajjad Bin
  23. Sayyidina Husain Bin
  24. Sayyidatina Fatimah Az-Zahro Binti
  25. Rosulullah Nabi Muhammad SAW

Dari Silsilah tersebut diketahui bahwa Nasab Sunan Cendana bersambung kepada Rasulullah dan menjadi turunan ke 25 dari Nabi Muhammad SAW.

Putra Putri Keturunan Sunan Cendana

Syaikh Zainal Abidin Sunan Cendana memiliki 7 orang putra dan putri dari ketiga istrinya (berdasrkan manuskrip morombuh).

Dari Istri pertama (Nyai Bukabuh binti Kiai Bukabuh) memiliki 3 orang putra dan putri yaitu:

  1. Raden Ya’qub (Putro Manggolo) Dimakamkan di Desa Petapan
  2. Nyai Nur Omben, Makamnya di Petapan
  3. Nyai Kumala, Dimakamkan di Petapan

Dari Istri kedua (Nyai Labuhan) juga dikarunia tiga putri yaitu:

  1. Nyai Aminah (Nyai Lembung), Kwanyar
  2. Nyai Sholiha, Pamekasan
  3. Nyai Tengginah, Pamekasan

Kemudian dari istri ketiganya (Nyai Gresik) Sunan Cendana hanya dikaruniai satu orang putra saja yaitu Kiai Irsyad atau biasa dikenal dengan sebutan Kiai Jasad yang dimakamkan di Gresik.

Masih ada banyak khilaf perihal Keturunan sunan cendana tersebut, karena jumlah istri yang sebenarnya sampai sekarang juga belum pernah diketahui.

Namun yang masyhur dikalangan masyarakat dan juga tercatat dalam manuskrip kuno Morombuh jumlah istri beliau adalah 3 dan dari ketiga istri tersebut memiliki total 7 orang putra dan putri.

Barangkali dari kalian ada yang punya susunan Silsilah sunan cendana dan keterununan nya bisa hubungi saya melalui halaman kontak di blog ini.

Kami akan mencoba cocokan dengan data dalam sebuah manuakrip kuno yang sudah kami peroleh dari para keturunan Sunan Cendana kwanyar.

5 pemikiran pada “Sejarah dan Silsilah Sunan Cendana Kwanyar dan Turunan nya”

Tinggalkan komentar